Kelelawar Malam S/T LP Launching

Artwork by : Deta Beringas

Kelelawar Malam s/t LP sudah tiba !

TUNGGU TANGGAL LIRISNYA !

KELELAWAR MALAM / GHAUST split cover artwork

Kelelawar Malam di Rajasinga - Rajagnaruk Jakarta Launching Show Bersama Siksa Kubur & Gigantor

[Flash 10 is required to watch video]

Teaser untuk Ghaust / Kelelawar split 7” 

Malam Mencekam - Seven Souls the Arcade, Jogjakarta, 10 Juli 2011

Artwork oleh Morrg 

Kelelawar Malam - s/t - Review oleh Omuniuum

Berikut kisah Kak Katy Bon yang diganti oleh Mas Bram …

Dimana kak Katy Bon? Masyaallah! Tatkala itu Mas Bram mencari Katy Bon, ia medapati Katy Bon sudah berhari hari lamanya terjebak di mulut singa. Ini adalah hasil dan konsekwensi seorang Katy Bon sang petualang. Demi mencari ilham me-review album Kelelawar Malam, dan mendalami perannya sebagai reviewer, kak Katy Bon ingin merasakan pengalaman Horror dan near death experience itu, berguru pada sirkus keliling, ternyata rambut keriting kak Katy Bon dan paras ayu nya, cukup menawan sang Singa jantan, jadilah ia tak rela melepaskan kak Katy Bon tersayang kita.

“Katy Bon!”, Mas Bram memanggil.

“Ya..!! Ya..ya..ya..ya..”, suaranya bergema dalam mulut singa jantan kasmaran itu.

“Astaghfirullah”, rapel Mas Bram spontan religius. Paras rupawan a la Ongky Alexander dan terinspirasi berat oleh Boy di film-film catatannya, membuat Mas Bram berusaha se-religius Mas Boy…walau sulit…ia tidak akan dengan serta merta istighfar dan menutupkan kain pada tubuh Meriam Belina sambil istighfar jika sedang terpapar pasrah di hadapannya, layaknya yg Mas Boy lakukan. Yah, apalah daya, kan yang penting usaha. Baiklah, demi untuk kelangsungan rubrik review ini pun, Mas Bram menunjukkannya kebolehannya sementara kak Katy Bon berusaha keluar dari mulut singa.. literally..

Kali ini Mas Bram akan mereview album dari Kelelawar Malam. Apa kata Mas Bram? Apapun itu, yakinlah..apa yang dikatakan Rudi!! eh, Mas Bram.

“Gimana Maaass?”

“Edan”

Hmm.. Sebenarnya, satu kata “edan” itu saja sudah cukup untuk dijadikan review album self-titled Kelelawar Malam ini, namun karena ini adalah malam jumat dan konon katanya pada malam jumat doanya harus panjang2, maka review ini pun harus agak panjang isinya biar lebih afdol dan mabrur.

Oke, keedanan dari album ini dimulai dari saat saya membaca nama para personil dari Kelelawar Malam. Sayiba Von Mencekam, Deta Beringas, Fahri Al-Maut, dan Apin Kiamat. Memang betul Mas Shakespeare pernah bilang “apalah arti sebuah nama?”, tapi nama-nama seperti ini membuat keempat punggawa horror metal punkKelelawar Malam terkesan lebih total dalam konsep mereka! (sempat terbesit dalam pikiran saya bagaimana seandainya itu benar2 nama asli mereka? sungguh rock n’ roll pastinya).

Kemudian artwork nya. Yes, artwork nya! Artwork yang terdapat dalam tiap halaman sleeve album menggambarkan dengan sangat apik “cerita” yang terdapat di dalam setiap lagu. Ilustrasi yang kelam dan gelap namun tetap elegan mampu menyedot imajinasi kita untuk benar-benar merasakan kepedihan, kengerian, ke-bulu-kuduk-yang-berdiri-an, dan ke-an2 lain yang ada di dalam tiap lagu. Well, setidaknya itu yang saya rasakan, that electric feel!

Masuk ke CD nya itu sendiri. Total terdapat 13 lagu dalam album ini (12 lagu padatrack list + 1 lagu hidden track). Entah memang sengaja dibuat total 13 lagu atau bagaimana, angka 13 tersebut tetap saja memberikan kesan horror yang semakin terpadu. Ouch seraam!! Oke, lagu pertama yang didaulat sebagai pembuka album ini adalah sebuah lagu berjudul Malam Terkutuk. Lagu ini dibuka dengan raungan gitar yang menyeruak diikuti dengan dentuman drum tempo cepat yang seolah-olah meludah ke muka kita lewat tenaga punk nya yang membunuh (apa pun artinya itu). Dan saat Sayiba Von Mencekam berfirman “Ini malam…. Malam terkutuk!”, seketika itu juga saya sadar bahwa album ini adalah sebuah kutukan bagi orang-orang dengan selera musik yang payah!

Lagu kedua, Suzannakenstein adalah sebuah akuluturasi yang menarik dari budaya horror tanah air dengan budaya horror Hollywood. Mungkin saat ini Boris Karloff dan Suzanna sedang mendownload album ini secara illegal di alam sana (tapi kalau Omuniuum buka cabang di alam kubur pasti mereka beli CD nya sih, yakin). Riff-riff punk rock yang authentic ditambah dengan reff yang anthemic serta solo gitar yang menyihir membuat lagu ini menjadi lagu kedua favorit saya di album ini. Masuk lagu ketiga Malam Jumat Kliwon kita dibawa ke dalam flow yang lebih pelan namun tidak mengurangi semangat. Dengarkan dengan fokus saat sang vokalis menekankan pada kita semua bahwa “Ini Malam Jumat Kliwon”. Syahdu.

Dilanjutkan dengan lagu keempat Kengerian. Lagi-lagi, kita disajikan dengan reff yang anthemic dan semangat yang berkobar-kobar. Apalagi saat tempo bertambah cepat di tengah-tengah lagu dan sang vokalis mulai berteriak “Dari langit mereka datang menembus awan kegelapan”, uuh…. Ingin rasanya moshing memukul-mukul dosa-dosa masa lalu saya sambil kayang setengah salto di udara. Energinya begitu luar biasaaa!! Seperti malam takbiran. Satu hal lagi yang menarik dari lagu ini adalah tema yang dibawakan, yaitu serangan UFO. Kata siapa para makhluk terrestrial itu tidak pernah melancong ke negeri ini? Jogja buktinya. Kelelawar Malam saksinya.

Lanjut lagu kelima, Kafir. Saya rasa lagu ini tentang dajjal. Kombinasi antara gaya bernyanyi sang vokalis yang mengingatkan saya pada Iwan Fals, nuansa surf rockyang cukup kentara, dan line seperti “Matamu di tengah bintang” menjadikan lagu ini, entah bagaimana, terasa psychedelic. Membayangkan dajjal raksasa dengan kostum hippies bangkit dari tempat peristirahatannya sambil memainkan lagu Purple Haze. Dia memberikan tanda peace kepada kita semua sebelum melakukan pembunuhan besar-besaran dengan laser yang keluar dari kedua bola matanya. Ah, saya semakin melantur.

Lagu keenam Ratu Kegelapan. Sebuah lagu pengorbanan seorang perawan cantik nan jelita kepada ratu kegelapan. Saya tidak akan berkata banyak tentang lagu ini karena saya takut lagu ini bercerita tentang Kanjeng Ratu Kidul dan mungkin sekarang ia sedang membaca review ini dari kediamannya di Pantai Selatan. Skip. Masuk lagu ketujuh, Palu Keadilan. Dibuka dengan intro gitar yang membuat badan merinding diiringi oleh paduan suara zombie-zombie pesuruh bersuara “Aaaa aaaa” sebelum akhirnya masuk sang vokalis dengan suara yang berat dan rendah melantunkan mantra “Keluarlah… Keluarlah… dari lubang hitam yang terkutuk, keluarlah….”. Pure Horror. Tidak ada yang lebih menakutkan dari memanggil kembali orang-orang yang sudah mati ke dunia.

Satu sampai tujuh sudah dilewati, berarti masuk lagu kedelapan Bangkit Dari Kubur yang merupakan lagu paling favorit saya di album ini! Lagu yang menurut saya, benar-benar gila! Dahsyat. Edan. Dari segi musik maupun lirik benar-benar memberikan sebuah satisfaction, walaupun hanya dalam durasi 2 setengah menit (seperti inikah rasanya quickie?). Lirik yang simpel, reff yang sing-a-long, arasemen musik yang sederhana. Hey! Musik punk seharusnya seperti ini!! Yakin saya Kelelawar Malam dapat membangkitkan Suzanna sekalipun dari kubur dengan lagu ini.

Lagu kesembilan Suara Kegelapan. Tampaknya pada lagu ini Kelelawar Malam terinfluence dari musik metal era 80an, terdengar dari gaya bernyanyi sang vokalis yang berat seperti menyeret mayat dan solo gitar yang mengaung-ngaung seperti memperkosa senar ala thrash metal. Reff dengan line “Suara kegelapan memanggil namamu” yang diulang berkali-kali sungguh mendoktrin pikiran kita (cara mendoktrin ala NII lewat). Next lagu kesepuluh Kelelawar Malam. Ahey! Cukup jarang saya mendengar sebuah lagu yang judulnya sama dengan nama band dan nama albumnya. Cool! Energik seperti baterai Energizer. Lanjut lagu kesebelasReptilia Menyerang masih dengan pola musik punk 3 kunci yang membakar telinga pendengarnya. Namun lirik yang dibawakan cukup memberi senyum di wajah saya. Reptil yang menyerang? Untung saja bukan ulat bulu yang menyerang, karena dengan begitu lagu ini akan menjadi lagu yang begitu up to date dan diputar di acara-acara berita setiap hari. Hihi.

Lagu keduabelas Malam Mencekam. Dengan balutan musik metal yang sedikitblues dan bertempo lambat, lagu ini dibuka dengan petikan gitar yang seolah menggiring kita ke dalam sebuah kuburan yang angker, untuk kemudian mengetahui bahwa seorang pemuda psikopat sedang membunuh kekasihnya dengan kejam. Pemuda tersebut lalu bertambah sadis dan tak karuan layaknya dirasuki setan, sementara iringan musik latar dari Kelelawar Malam semakin bertambah menggebu. Epic. Sebuah lagu penutup yang membuata saya berkata “Yah abis ni?”. Tapi kemudian pertanyaan tersebut langsung dijawab di lagu ketigabelas, Manusia SerigalaHeadbanging tidak dapat dihindari lagi. Mulut saya tanpa sadar mengikuti liriknya “Homo Homini Lupus” seperti dzikir. Album ini pun akhirnya habis. Tapi saya tidak kuat. Seperti layaknya ibadah, album ini begitu menagih! Saya ulang kembali album ini dari awal. Mulai kembali.

Pada hakikatnya, menikmati album self titled Kelelawar Malam ini adalah sebuah sensasi tersendiri (mungkin seperti sensasi merancap saat menonton film Big Tits Zombie di tengah kuburan pada malam Jumat Kliwon). Mendengarkan musiknya, membaca liriknya, meresapi artwork nya, seperti membawa kita ke dalam sebuah perjalanan sinematik dari sebuah ensiklopedi mini budaya horror Indonesia. Sungguh sebuah konsep yang dibangun dengan unik dan menarik! Menurut saya pribadi, album ini seperti sebuah album soundtrack dari kumpulan film-film pendek bertema horror dengan para personil Kelelawar Malam sebagai pemainnya. The Kelelawar Malam Horror Picture Show. Edan!

P.S. Begitulah review CD yang diawali dengan kisah bukan kasih Mas Bram dan  Kak Katy Bon..  Maaf kalo pusing bacanya.. hihihi… Kalo ada yang mau kirim surat cinta untuk  Mas Bram atau Kak Katy Bon bisa di imel ke order@omuniuum.net, nanti kami sampaikan. Eh, pesen CD bisa via sms ke 087821836088 yaks! Oh, biar keliatan update dan eksis, jangan lupa follow kita di twitter ya, @omuniuum atau @itbo

Grieving The Earth|12 Mei 2011|Rossi Musik

Kelelawar Malam di EAR Magz Vol. 29 (Jogja)

Link : 

Ebook:    http://www.myebook.com/index.php?option=ebook&id=77649

Mediafire (pdf): http://www.mediafire.com/?rv3yk8rca996s12

Liga Musik Nasional , 15 April 2011, Reneo Cafe, Bandung