Kelelawar Malam S/T LP Launching

Artwork by : Deta Beringas

Kelelawar Malam s/t LP sudah tiba !

TUNGGU TANGGAL LIRISNYA !

KELELAWAR MALAM / GHAUST split cover artwork

Teaser untuk Ghaust / Kelelawar split 7” 

Kelelawar Malam - s/t masuk dalam 5 album terbaik 2010 menurut jakartabeat.net

Pilihan Lima Album Terbaik Indonesia 2010

Oleh Idhar Resmadi, editor Common Room Networks Foundation |


Perhatikan ironi ini: sepanjang tahun 2010 hampir tiap bulan band-band luar negeri menggelar konser di Indonesia. Hampir bisa dipastikan bahwa konser-konser itu ramainya minta ampun. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa sesaknya Java Rockinland, betapa ramainya konser Vampire Weekend meski tiketnya tergolong mahal, yaitu sekitar 400 ribu. Juga melihat betapa keponakan kawan saya rela menabung demi menonton Temper Trap.

Ironinya: lihat penjualan rekaman di negeri sendiri. Akibat penjualan rekaman yang menurun drastis, sejak awal tahun ini saja toko musik di Bandung boleh dikatakan menghilang. Kemana para  pembeli cakram-cakram padat?

Yang lebih merisaukan, musik semakin kehilangan esensinya. Kehilangan itu jelas tampak ketika terlihat semakin banyak musik-musik instant, macam Justin Bieber, merajai penghargaan MTV. Atau, tampak ketika sebuah festival musik indie kita menyanyikan lagu “Cinta Satu Malam”. Menonton acara MTV, yang menayangkan program MTV 4L4Y, cukup menegaskan bahwa di tahun 2010 ini, 4L4Y rules the world!

Gitaris Radiohead Johnny Greenwood pernah mengekspresikan rasa frustasinya juga. Ia merasa pengap bahwa dunia musik kini kehilangan kritiknya. Lantas merindukan sosok-sosok macam John Peel dan menempatkan musik pada konteks sosialnya yang paling penting yaitu melakukan perubahan atau memberikan kognisi yang sempurna.

Sebuah pernyataan pada sebuah diskusi tentang arsitektur di perpustakaan Rumah Buku Bandung beberapa waktu lalu menohok saya. Di sana, dosen arsitektur Pursal menyebut kalimat ini: “creativity without criticism is blind, and criticism without creativity is going nowhere”.

Jika M. Taufiqurrahman menulis di Jakartabeat.net bahwa menulis musik ibarat menari tentang arsitektur, maka saya menemukan betapa bobroknya arsitektur di kota Bandung tempat saya tinggal. Ia dipenuhi jalan bolong, façade salah tempat, atau ruang publik yang salah guna, karena arsitektur kehilangan daya kritiknya. Dunia musik pun sami mawon, kehilangan kritiknya yang bernilai.

Evaluasi akhir tahun tentang dunia musik memang selalu dipenuhi nilai subyektif. Saya menempatkan dua hal tentangnya: bahwa musik tak hanya berbicara soal estetika, tapi juga mempersoalkan bagaimana dialektika bisa dihadirkan. Musik tak hanya soal bunyi, suara, karakter vokal, dan efek gitar. Sama pentingnya, mungkin lebih penting, juga memahami bagaimana musik bisa berbicara dengan konteks sosialnya, pada zamannya, dan lingkup budayanya.

Pertimbangan semacam itu yang membuat saya lebih menempatkan musik dari Kelelawar Malam yang berani mengeksplorasi konten dan mitos klenik pada tempat yang lebih tinggi, dibandingkan musik karya Sandhy Sondoro atau Monita Tahalea yang saya akui sebetulnya sangat bagus. Ini mungkin seperti bagaimana saya lebih memilih musik fals macam Velvet Underground yang dikepung deru musik harmonis milik The Beatles atau The Byrds di pertengahan/akhir tahun 1960-an.

Toh pada dasarnya pilihan musik memang dikembalikan kepada personal. Bukankah esensi dari sebuah kritik itu bermula dari keberanian untuk berlapang dada?

Inilah pilihan lima album terbaik Indonesia selama tahun 2010:

1.Various Artist- Kompilasi Jogja Istimewa 2010 (Demajors Records)


Untuk yang sering melancong ke Jogjakarta (seperti saya), pastikan Anda tidak melulu terjebak pada konsep eksotisme seperti makan lesehan di Malioboro atau berbelanja kue bakpia. Saran saya, yang notabene bukanlah seorang traveler namun mengerti benar keunikan khas kota Jogjakarta, cobalah sedikit meluangkan waktu untuk melihat flyer di mana band-band Jogja akan tampil.

Hampir setiap tahun saya menyempatkan diri bertandang ke kota ini. Pertengahan tahun ini, saya rela mengorbankan penelitian skripsi terlantar demi mampir ke Jogja untuk menghadiri festival new-media Cells Button.

Setelah festival itu, saya datang ke sebuah konser musik di LIP Jogja dan tercerahkan saat menyaksikan betapa globalisasi membuat jarak New York dan Jogja hanya sejengkal mata pandang. Saya melihat raungan musik NY Hardcore dari Serigala Malam, terbius pada konsep musik Armada Racun yang menihilkan gitar, menikmati penampilan brutal nan chaotic dengan ketukan ganjil dan partisi ala jazz dalam musik Cranial Incisored, dan terbenam pada betapa gemerlapnya Jogja di musik Dub Youth. Band-band yang barusan saya sebut adalah beberapa pengisi dalam album kompilasi Jogja Istimewa ini.

Maka, album kompilasi Jogja Istimewa 2010 adalah sebuah langkah tepat untuk mendokumentasikan scene musik Jogja yang begitu dahsyat erupsinya tiga tahun belakangan ini. Saya membayangkan betapa susahnya para kurator yaitu pendiri Yesnowave Wok The Rock, pegiat musik jazz Jogja Ajie Wartono, dan mantan manajer Sheila On 7 Anton Kurniawan, untuk menentukan sepuluh pengisi kompilasi di tengah hiruk pikuk musik Jogja yang tengah menggeliat luar biasa.

Secara materi isi, semua lagunya layak dikedepankan. Termasuk dua jagoan saya: “Individual Life” yang menghadirkan post-rock megah dengan aransemen canggih termasuk sebuah orkestra di dalamnya dan musik juara dari Risky Summerbee & The Honyethief yang susah didefinisikan karena kecakapan bermusik dan integritas seni yang dijunjung tinggi – Risky seringkali melakukan kolaborasi lintas artis seperti dengan dalang Ki Slamet Gundono hingga seniman-seniman internasional seperti yang saya lihat dalam film dokumenter mereka Inside Your Shoes.

Album kompilasi ini menandai semangat sebuah zaman dan dokumentasi budaya. Dari Jogja terlihat sebuah semangat untuk benar-benar memaksimalkan daya kreativitas, dan, yang paling penting, punya integritas untuk tidak terjebak arus pasar.  Yang patut diingat, dari sebuah album kompilasi kita bisa melihat ekspresi budaya yang dikembangkan. Hampir serupa dengan album kompilasi Deep Six dan Sub Pop 100 yang melejitkan grunge dan Seattle, kompilasi Yes New Yorkdi New York yang mengkurasi potensi yang melejitkan Interpol dan The Strokes, atau kompilasiC-86 yang membuat indie-pop membahana ke seluruh dunia.  Usaha-usaha ini adalah kompilasi yang sukses untuk merekam budaya setempat dan menjadi sejarah.

Hentikan sejenak hiruk pikuk politik dan referendum yang membuat ramai Jogjakarta akhir-akhir ini. Jika makna demokrasi adalah kebebasan berekspresi, maka kompilasi Jogja Istimewamemiliki hal itu. Kebebasan berekspresi yang lahir dari proses intelektualitas dan ketulusan yang murni, bukan dari hiruk pikuk politik atau ikut arus pasar kapitalisme yang menyembah pasar semacam kompilasi Fresh atau Now. Jogja sudah istimewa.

2. Bangkutaman- Ode Buat Kota (Jangan Marah Records)


Saya sudah pernah mengupas tuntas isi album ini, dari musiknya hingga ideologinya, di Jakartabeat.net. Ulasan pendek ini mungkin hanya jadi penegas bahwa salah satu album terbaik di Indonesia justru dilahirkan dari jam kantor yang padat, deadlinemendesak, kemacetan, atau kegalauan luar biasa tentang kehidupan di kota besar. Saya sempat heran bagaimana bisa Wahyu aka Acum dkk. bisa punya energi sebesar itu di tengah robotik kehidupannya untuk merilis maha-karya yang menarik ini hingga membuat harian ternama Inggris The Guardian pun menyebut, “They are one of the most well-respected bands in Indonesia.”

Dari single panas mereka saja, “Ode Buat Kota”, kita pasti setuju jika band ini sudah bisa menabrakan tradisi mereka dari The Stone Roses ke warna Velvet Underground dan Bob Dylan. Dua keistimewaan dalam album ini yaitu sebuah konsep album yang dilahirkan dari sebuah memori episodik mereka tentang Jakarta dan warna musik mereka yang lebih lebar dan berwarna. Don’t call them the local The Stone Roses anymore.

Dalam daftar album terbaik tahun lalu saya menempatkan album Balada Joni dan Susi milik Melancholic Bitch yang berani mendobrak pasar yang ramai lewat penjualan RBT dan single. Melancholic Bitch melakukan counter-culture dengan merilis konsep album yang notabene saling berhubungan satu sama lain. Predikat yang sama saya terapkan pada Ode Buat Kota ini.

Ketika kapitalisme semakin menggurita, perusahaan telco atau IT memegang kendali, musik digital semakin menggila,  adakah ruang untuk musik serius dan penuh kontemplasi? Di tengah tuntutan musik sebagai pekerjaan utama, adakah ruang untuk kontemplasi buat musisi?

Mari berkaca pada Bangkutaman. Pekatnya kehidupan tak hanya bisa dilampiaskan melalui karaoke atau bermain bilyar. Tapi ia bisa dilampiaskan menjadi energi luar biasa untuk berkarya, lewat musik.

3. White Shoes and The Couples Company- Vakansi  (Pura-Pura Records)


Saya memberikan dua salut kepada White Shoes and The Couples Company (WSATCC). Pertama, lewat lagu “Matahari” mereka telah membuat album ini memiliki sesuatu yang istimewa. Kedua, konsistensi mereka untuk bertahan dengan nuansa zaman dulunya. Tak banyak sebenarnya yang bisa bertahan. Naif kini justru lebih terlihat (dan terdengar) modern, atau grup band Karon n Roll yang menghilang entah kemana. Juga The Upstairs yang terengah-engah karena banyak ditinggal personilnya. WSATCC membuktikan jika integritas seni adalah sesuatu yang tak perlu dibantah lagi.

WSATCC menyadarkan kita bahwa integritas dalam berkesenian merupakan kunci utama meraih kemampuan mumpuni. Hal ini wajar, mengingat latar belakang seni yang kental dalam diri personil WSATCC. Sikap dan integritas itu membuat album sophomore mereka layak menjadi rilisan terbaik di tahun 2010 ini.

Salah satu yang terpenting adalah keputusan mereka untuk menempatkan kata “Vakansi” yang berasal dari kata bahasa Indonesia untuk mengganti “Vacation” atau liburan. Konteks linguistik seperti ini bukanlah sesuatu yang remeh temeh. Ia telah dipikirkan matang-matang dan untuk membuktikan konsistensi konsep musik WSATCC yang sangat Indonesia.

Lagu “Matahari” cukup membuat album Vakansi masuk rak wajib album Indonesia Terbaik 2010. Sosok di balik lagu ini adalah David Tarigan, sang “profesor” musik Indonesia yang memiliki katalog cerdas seputar musik Indonesia lama. David-lah penulis lirik lagu ini.  Sebuah musik yanganthemic dan menarik, dan pastinya dihasilkan dari komposisi yang bukan main-main. Termasuk bagaimana mereka melantunkan gaya-gaya vokal khas Papua, membuat siapa saja akan memberikan salut tinggi untuk eksplorasi tingkat tinggi macam itu. Isi keseluruhan album ini seolah menggambarkan seperti apa itu “INDONESIA” dalam sekeping album.

4. Kelelawar Malam- Self Titled (Demajors Records)


Hey, mereka “bangkit dari kubur”. Saya bukan sedang membicarakan geng kuntilanak atau gerombolan dedemit sejenisnya, akan tetapi sebuah lagu milik band horror-punk Kelelawar Malam. Niscaya lagu ini mengajak kita sing-along di lolongan malam. Sebuah lagu yang anthemic dan dihadirkan dari raungan distori punk rock yang raw dan ketukan drum monoton.

Sepanjang album kita memang akan disuguhkan distorsi raw, sound lo-fi, kunci klasik Ramones-esque dengan jargon tiga chords, dan drum monoton khas punk rock dekade 70-an yang penuh semangat nihilisme. Lantas apa yang membuat album ini begitu istimewa?

Saya sangat menyukai usaha mereka mengeksplorasi mitos dan legenda lokal masyarakat Indonesia. Album ini bercerita tentang pocong, kuntilanak, ritual pembakaran penyihir, kematian, Ratu penguasa laut selatan, dan tidak beda jauh dengan film-film kelas B yang banyak bertebaran di bioskop kita sepanjang tahun ini.

Album Kelelawar Malam mengingatkan pada tema-tema horor seperti pada novel karya Abdullah Harahap. Karya Abdullah Harahap, yang kemudian diinterpretasi dengan cerdas oleh tiga penulis, Ugoran Prasad, Eka Kurniawan, dan Intan Paramaditha dalam kumpulan cerpen Budak Setan, dan album Kelelawar Malam merupakan satu paket yang membuat saya bisa memahami konteks horor, mitos, dan dedemit dalam kehidupan masyarakat kita. Bukan lewat hantu-hantu “modern” macam hantu facebook atau hantu datang bulan yang ada di layar bioskop kita.

Album ini tak hanya menyoal persoalan klenik dan sejenisnya, Album Kelelawar Malam adalah sebuah produk yang menjadi sebuah anti-tesis dari kehidupan modern yang biasa dikira sebagai kehidupan yang mengunggulkan rasio dan logika.

Agaknya, Kelelawar Malam telah menawarkan ulang pandangan bahwa masyarakat Indonesia adalah sebuah masyarakat besar yang mengusung mitos, dan mitos itu dekat sekali dengan kehidupannya. Kehidupan modern bahkan belajar banyak dari mitos itu.

Seperti pada kutipan lirik yang bernas dari lagu “Manusia Serigala” yang merupakan lagu bonus di album ini:

“Terkutuklah hei manusia jadi-jadian/bulan purnama datang kau mencari makan/ kawanku terkoyak jadi dua bagian/sekarang kau menginginkan aku menjadi santapan/manusia serigala.”

Di balik segala kehidupan modern, teks ini saya tafsirkan sebagai perilaku manusia modern yang korup. Dan berbuat arif dan mempercayai mitos bukanlah sebuah dosa besar.

5. Frau- Starlit Carousel (Yesnowave Music)


Saya akan memberi tempat pada album musik yang beredar di internet atau net-label. Di tengah pesimisme akan kondisi label rekaman, merilis musik atau album di internet merupakan alternatif. Kadang, saya menemukan banyak lagu bagus yang  bertebaran di internet, namun sayang rilisan netlabel minim apresiasi. Saya juga termasuk pengunjung setia net-label resmi di Indonesia, Yesnowave. Yesnowave adalah dokumentasi yang luar biasa untuk mengetahui scene musik Jogjakarta. Di sanalah saya menemukan Frau. Mungkin Anda mengerenyitkan kening: hey, siapa dia?

Frau adalah solois yang bernama asli Leilani Hermiasih Suyenaga. Ia adalah seorang mahasiswi antropologi UGM di Jogjakarta. Gadis ini diberkati talenta musik yang luar biasa. Kalau sempat memperhatikan, Frau pernah tergabung dalam  grup band surf-rock fenomenal The Southern Beach Terror. Tak hanya piawai memainkan Oskar, nama piano kesayangannya, ia juga piawai bermain gamelan seperti pada pentas wayang antro.

Frau adalah  sebuah alter-ego dari Leni yang lebih disibukkan dengan diktat, penelitian, tugas makalah, atau ujian akhir semester. Di tengah padatnya kewajiban sebagai mahasiswi, ia menemukan dirinya sebagai seorang yang penuh imajinasi dan terbenam pada lantunan-lantunan jemari yang lincah menari di tuts piano.

Gaya menyanyinya puitis dan cenderung mendongeng, ditemani permainan pianonya yang membius. Musik Frau telah mendamparkan saya untuk sedikit merenung dan berfikir. Kadang juga menghipnotis saya untuk menggerakkan jemari melakukan hal serupa, seolah saya adalah seorang pianis. Sebuah musik dikatakan bagus dan jenius ketika ia mampu membuat pendengarnya bisa berkontemplasi di dalamnya.

Lagu yang paling jenius adalah “Mesin Penenun Hujan”. Intro yang sentimentil dengan dentingan piano, dilanjutan oleh suara yang indah telah berhasil membuat penulis ulasan ini terpojok dan hanya bisa meratap melihat butir hujan di kaca salah satu kafe di Bandung saat suasana senja begitu temaram.

Lagu jagoan lainnya adalah sebuah lagu cover dari Melancholic Bitch “Sepasang Kekasih di Luar Angkasa” yang dinyanyikan bersama Ugoran Prasad. Ini adalah duet terbaik yang pernah saya dengarkan, setelah duetnya Thom Yorke dan Bjork.

Lewat kedua lagu itu, Frau sudah sangat layak untuk mengisi satu posisi di album terbaik ini. Talenta yang hebat dibalut kesederhanaan musik maupun pribadinya membuat musik Frau adalah berlian yang saya temukan di jagad maya (sebelum kemudian dirilis CD-nya via Demajors Records).

Link :

http://www.jakartabeat.net/musik/462-pilihan-lima-album-terbaik-indonesia-2010.html

Kelelawar Malam di Deathrockstar

Setelah menteror saya dengan mimpi buruk a’la film horror lokal klasik, dan kadang setan-setan dari komik horor Tatang S juga mengunjungi saya sejak pertama kali menonton aksi mereka disebuah venue sempit tanpa pencahayaan yang cukup disudut gelap kota Jakarta

Sejak saat itu, teriakan lirik mereka “… bangkit dari kubur…” selalu tengiang-ngiang tanpa henti, menghiasi setiap mimpi yang tidak indah.

Dan sekarang Sayiba von Mencekam, Deta Beringas, Fahri Al-Maut dan Apin Kiamat merilis sebuah album panjang berisikan lagu-lagu yang seperti berasal dari skrip film horror era kejayaan Suzzana.

Musik mereka sering kali dibandingkan dengan Misfits atau Danzig sang legenda horror punk. Bisa disetujui secara tema dan referensi, namun setelah diskusi panjang dengan teman saya, kami sepakat bahwa secara musik Kelelawar Malam lebih dekat dengan Psychobilly, sebuah variasi dari rockabilly hanya saja lebih nyeleneh dan tema-tema yang tidak wajar.

Saya tak mampu melawan kengerian untuk membahas lagu mereka satu persatu, tetapi secara keseluruhan band ini benar-benar merefleksikan film horror kelas B, yang seram dan terasa norak namun disisi lain memiliki nilai artistik yang cult, dan dengan image horror seperti ini mereka sama sekali tidak berusaha melucu dalam menebarkan aroma kengerian.

Link :

http://deathrockstar.info/kelelawar-malam/#comments


Kelelawar Malam di Jakarta Post 28/11/2010

Spreading terror with their own words of horror

Felix Dass, Contributor | Sun, 11/28/2010 1:45 PM | Music

They worship the Misfits, the American rock band that personifies the punk horror subgenre. They also idolize Suzanna, a local actress famous for her horror flicks. They now spread the suspense to their audience.

In a nation filled with hundreds of urban legends, horror stories that are adapted to a music performance are a rare thing to see. But this bunch of punk rockers has a good approach to describing an unfamiliar term — horror punk.

Meet Kelelawar Malam, the Jakarta-based punk rockers that are able to speak fluently about horror stories through very eccentric music. For them the stories come first and the music just follows.

“To be honest, we don’t really want to create a certain type of music. At first, we only wanted to tell stories with our lyrics, and then the music came along afterwards. So far we have been able to make some adjustments,” says Sayiba von Mencekam, who writes all the compositions.

“As an Indonesian, could you tell me any single Indonesian who has never heard a horror story?”, he asked. 

Sayiba is accompanied by Deta Beringas, Fahri al Maut and Apin Kiamat. All of them use a pseudo alter ego, as their idol Misfits also do.

“Our influences come from the Misfits, Samhain and Danzig. In the early days of Kelelawar Malam we only wanted to be a Misfits’ cover band, but we failed because we couldn’t play any of their songs in the proper way. So we decided to start writing our own songs,” Sayiba said.

From another perspective, each member of Kelelawar Malam has devoted themselves to the late Suzanna, the iconic actress who gained popularity by starring in dozens of horror movies from the 1970s until the millennium era.

“Apin Kiamat always performs a ritual, the same one carried out by Suzanna in her lifetime – eating jasmine just before the gig starts,” jokes Sayiba, adding that Apin Kiamat did this for the sake of fun, of course. 

Kelelawar Malam also has a track called Suzannakenstein as their personal homage to the actress.

Their latest terror, a self-titled full album released on this year’s Halloween, was probably as a perfect soundtrack to the supposed-to-be-terrifying Halloween night.

Don’t be afraid. They only want to have some fun. “We just want to tour everywhere, as every new place always make us more enthusiastic. We just want to make new songs, make new albums, make everything,” Sayiba said.

Find them at Facebook.com/KelelawarMalam and be instantly horrified.

Link :

http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/28/spreading-terror-with-their-own-words-horror.html


Bandung - Bali Desember Tour TSHIRT

Moss - Sub Templum rip Ovv !!!

Kelelawar Malam - s/t - Review oleh Bakspaper

Band klenik beraliran punk rock ini bangkit lagi dari kuburnya dengan merilis LP perdana yang telah lama ditunggu kehadirannya oleh para Budak Kelelawar. Album ini memuat beberapa lagu yang pernah dirilis sebelumnya dengan aransemen yang berbeda dan 6 lagu terbarunya. Secara keseluruhan, lagu-lagu yang termuat disini diaransemen lebih berkarakter dan ditunjang oleh kekuatan ayat-ayat kegelapan yang ditorehkan oleh Ibay Von Mencekam. Kualitas rekaman dan mixingnya yang bisa dibilang lo-fi akan lebih pas jika album ini diproduksi dalam format kaset atau piringan hitam. Lagu favorit saya di album ini adalah Palu Keadilan. Lagu anthem Bangkit Dari Kubur justru dibiarkan dalam pola standar musik punk dibanding versi sebelumnya yang lebih mencekam, begitu juga versi akustik Suzannakenstein tidak disertakan pula. Buat para budak-budak kelelawar baru, mereka wajib untuk memburu rilisan-rilisan awal dari band ini.

Album ini diedarkan oleh distributor musik berkualitas demajors. Dapatkan segera di toko-toko musik terdekat di kota anda!

Link : http://bakspaper.com/?p=129